Pages

Jumat, 29 April 2011

PEMBELAJARAN OPERASI PADA BENTUK ALJABAR MENGGUNAKAN MODEL PERSEGI PANJANG DENGAN PENEMUAN TERBIMBING DAPAT MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA SMP


BAB I
ABSTRAK
Mawardi, Muh. Sholeh. 2006. Pembelajaran Operasi pada Bentuk Aljabar Menggunakan Model Persegi Panjang dengan Penemuan Terbimbing Dapat Meningkatkan Hasil belajar Matematika Siswa SMP. Karya Tulis, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Malang, SMP Negeri 1 Ngajum.
Kata kunci: model persegi panjang, penemuan terbimbing.
Pokok bahasan operasi pada bentuk aljabar cukup abstrak sehingga kebanyakan pembelajaran yang dilakukan oleh guru, termasuk penulis, terpusat pada guru melalui metode ceramah, tanya jawab, atau ekspositori. Pembelajaran kontekstual biasanya hanya disajikan pada awal pembahasan terutama pada penjumlahan dan pengurangan suku-suku sejenis. Kenyataannya penggunaan hukum distributif yang cukup abstrak dominan dipergunakan pada operasi perkalian aljabar dan pada pemfaktoran.
Berdasarkan angket yang diberikan pada siswa nampak bahwa pembelajaran yang dilakukan guru-guru SMP Negeri 1 Ngajum selama ini masih belum maksimal dalam membantu memudahkan siswa belajar matematika. Pokok bahasan operasi pada bentuk aljabar masih dirasa paling sulit oleh kebanyakan siswa dan kebanyakan siswa beranggapan bahwa penyebab sulitnya mata pelajaran matematika karena terlalu banyak rumus yang harus dihafal.
Untuk memecahkan masalah tersebut penulis mencoba menggunakan pembelajaran operasi aljabar dengan “model persegi panjang” yang diharapkan dapat mengatasi kesulitan belajar siswa terutama dalam memahami konsep yang abstrak berdasar konsep yang sudah dikuasai sebelumnya yaitu konsep luas persegi panjang. Sedang untuk mengatasi masalah banyaknya rumus yang harus dihafal dilakukan pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing sehingga pembelajaran lebih bermakna dan rumus yang diperoleh siswa melalui penemuan tidak hanya dihafal oleh siswa melainkan juga dipahami.
Berdasar hasil penelitian sederhana diperoleh hasil belajar matematika siswa siswa kelas 3A sebagai kelompok ekpperimen menunjukkan adanya peningkatan lebih tinggi daripada hasil belajar matematika siswa siswa kelas 3A sebagai kelompok kontrol. Oleh karena itu pembelajaran operasi pada bentuk aljabar menggunakan model persegi panjang dengan penemuan terbimbing dapat dipergunakan guru-guru matematika sebagai salah satu metode pembelajaran yang memudahkan siswa belajar matematika sehingga dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa SMP.


BAB II
PENDAHULUAN
A.    Metode yang ada sampai saat ini
Pokok bahasan operasi pada bentuk aljabar merupakan materi prasyarat yang penting bagi siswa kelas 3 karena mendasari beberapa pokok bahasan lain, seperti fungsi kuadrat dan grafiknya, persamaan kuadrat, dan lain-lain. Pokok bahasan ini cukup abstrak sehingga kebanyakan pembelajaran yang dilakukan oleh guru, termasuk penulis, terpusat pada guru melalui metode ceramah, tanya jawab, atau ekspositori.
Pembelajaran kontekstual biasanya hanya disajikan pada awal pembahasan terutama pada penjumlahan dan pengurangan suku-suku sejenis. Misalnya pada penyederhanaan bentuk aljabar 4x + 3y + 3x + 2y disajikan terlebih dahulu dengan masalah kontekstual “4 pensil ditambah 3 bolpoin ditambah 3 pensil ditambah 2 bolpoin menjadi berapa?”. Pada perkalian suku dua sudah diawali dengan penggunaan luas persegi panjang, misalnya untuk menentukan hasil perkalian disajikan dengan gambar persegi panjang sebagai berikut.
Kenyataannya pada penyelesaian akhir masih menggunakan hukum distributif sehingga .
Pada perkalian suku dua dengan suku dua mula-mula disajikan dengan sifat distributif seperti pada contoh berikut.
Dengan berbagai contoh, selanjutnya guru membuat kesimpulan bahwa pengerjaan di atas dapat diselesaikan dengan strategi sebagai berikut.
Pada pembelajaran pemfaktoran hampir semua disajikan secara abstrak dengan mengawali dari perkalian aljabar. Sehingga pada proses pembelajaran didapat berbagai aturan memfaktorkan, antara lain sebagai berikut.
1.      Pemfaktoran
2.      Pemfaktoran bentuk kuadrat sempurna
3.      Pemfaktoran selisih dua kuadrat
4.      Pemfaktoran , dengan
5.      Pemfaktoran , dengan
B.     Masalah yang ditemukan
Untuk mengetahui sejauh mana persepsi siswa terhadap pembelajaran matematika yang dilakukan oleh guru-guru SMP Negeri 1 Ngajum, maka pada akhir tahun pelajaran 2004/2005 penulis menyebarkan angket kepada 213 siswa kelas 3 SMP Negeri 1 Ngajum. Ada tiga masalah yang diajukan dalam angket tersebut, yaitu:
1.      Tuliskan peringkat mata pelajaran matematika dibanding mata pelajaran lain berdasar kesulitannya!
2.      Urutkan sebelas pokok bahasan matematika di kelas 3 berdasar peringkat kesulitannya!
3.      Tuliskan penyebab kesulitan belajar matematika!
Berdasar angket tersebut 47,418% siswa menempatkan matematika sebagai mata pelajaran paling sulit peringkat 1, 41,784% menempatkan pada peringkat 2, 5,634% menempatkan pada peringkat 3 dan hanya 5,164% yang menempatkan pada peringkat lebih dari 3. Ditinjau dari pokok bahasannya, dari 11 pokok bahasan yang disajikan, operasi pada bentuk aljabar dianggap pokok bahasan paling sulit dengan banyak responden 29,577%, sedangkan pada masing-masing pokok bahasan lain banyak respondennya tidak lebih dari 16%. Ada banyak penyebab kesulitan matematika bagi siswa dan yang dominan adalah terlalu banyak rumus yang harus dihafal dengan banyak responden 46,009%. Adapun data lebih lengkap hasil angket bisa dilihat pada lampiran 1.
Berdasarkan angket tersebut, penulis mendapat masukan bahwa pembelajaran yang dilakukan guru-guru SMP Negeri 1 Ngajum selama ini masih belum maksimal dalam membantu memudahkan siswa belajar matematika. Nampaknya pokok bahasan operasi pada bentuk aljabar masih dirasa paling sulit oleh kebanyakan siswa, hal ini disebabkan pokok bahasan tersebut sangat abstrak bagi siswa ditambah lagi metode pembelajaran guru masih kurang kontekstual.
Yang lebih mengherankan ternyata siswa beranggapan bahwa penyebab sulitnya mata pelajaran matematika karena terlalu banyak rumus yang harus dihafal. Padahal dengan hafal rumus bukan berarti siswa dapat menyelesaikan masalah matematika, apalagi jika tidak hafal rumusnya. Setelah merefleksi diri, penulis sadar bahwa pada pembelajaran operasi pada bentuk aljabar misalnya, dengan metode pembelajaran yang dilakukan penulis, secara tidak langsung seolah-olah siswa diminta menghafal beberapa rumus sebagai berikut.
1. kurangkan A dari B artinya B – A.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Berdasar kenyataan tersebut wajar jika salah satu penyebab utama kesulitan belajar matematika adalah terlalu banyak rumus yang harus dihafal.
C.     Konsep untuk memecahkan masalah
Untuk memecahkan masalah tersebut penulis mencoba menggunakan pembelajaran operasi aljabar dengan “model persegi panjang” yang diharapkan dapat mengatasi kesulitan belajar siswa terutama dalam memahami konsep yang abstrak berdasar konsep yang sudah dikuasai sebelumnya yaitu konsep luas persegi panjang. Dengan penggunaan model persegi panjang, pembelajaran yang dilakukan akan lebih kontekstual daripada pembelajaran sebelumnya sehingga keabstrakan materi yang dipelajari siswa akan mudah dipahami melalui konsep yang lebih konkret. Adapun alat peraga model persegi panjang bisa dilihat pada lampiran 2.
Sedang untuk mengatasi masalah banyaknya rumus yang harus dihafal dilakukan pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing sehingga pembelajaran lebih bermakna dan rumus yang diperoleh siswa melalui penemuan tidak hanya dihafal oleh siswa melainkan juga dipahami. Dalam pembelajaran ini sekaligus dirancang pembelajaran “satu untuk semua” artinya beberapa rumus atau langkah-langkah penyelesaian yang cukup banyak disederhanakan menjadi beberapa rumus atau langkah-langkah penyelesaian. Rumus-rumus atau langkah-langkah lain disimpulkan sendiri oleh siswa berdasar rumus utama tersebut.
Berdasar dua konsep tersebut penulis menyusun karya tulis dengan judul “PEMBELAJARAN OPERASI PADA BENTUK ALJABAR MENGGUNAKAN MODEL PERSEGI PANJANG DENGAN PENEMUAN TERBIMBING DAPAT MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA SMP”


BAB III
URAIAN MODEL YANG DIUNGGULKAN
UNTUK MEMECAHKAN MASALAH
A.    Tujuan pembelajaran
Tujuan dalam penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut.
1.      Memberi gambaran tentang pembelajaran operasi pada bentuk aljabar menggunakan model persegi panjang dengan penemuan terbimbing.
2.      Mengukur sejauh mana pengaruh penggunaan model persegi panjang dengan penemuan terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa SMP.
Sedangkan kompetensi yang diharapkan atau tujuan pembelajaran model persegi panjang dengan penemuan terbimbing dirumuskan mengacu pada kurikulum 1994 dan suplemennya sebagai berikut.
a.       Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran diharapkan siswa mampu mengoperasikan bentuk aljabar, perkalian suku dua dengan suku dua, memfaktorkan dan terampil mengerjakan soal pecahan dalam bentuk aljabar.
b.      Tujuan Pembelajaran Khusus
1)      Siswa dapat menyederhanakan suku banyak dengan mengelompokkan suku-suku yang sejenis.
2)      Siswa dapat menggunakan model persegi panjang untuk menemukan cara menentukan hasil perkalian suku dua dengan suku dua. *)
3)      Siswa dapat menentukan hasil perkalian suku dua dengan suku dua
4)      Siswa dapat menggunakan model persegi panjang untuk menemukan cara memfaktorkan bentuk kuadrat *)
5)      Siswa dapat memfaktorkan bentuk kuadrat
6)      Siswa dapat menyelesaikan operasi pecahan bentuk aljabar
Catatan : tanda *) khusus untuk kelas eksperimen saja, yaitu kelas yang mendapat perlakuan pembelajaran menggunakan model persegi panjang dengan penemuan terbimbing.
B.     Metode pembelajaran yang digunakan
Metode pembelajaran yang digunakan untuk kelompok kontrol adalah metode ekspositori yaitu metode penyampaian informasi dengan menerangkan suatu konsep, mendemonstrasikan ketrampilan, memeriksa apakah siswa sudah mengerti atau belum, memberikan contoh-contoh aplikasi konsep itu selanjutnya menugaskan siswa mengerjakan soal-soal (Rusefendi, 1980: 167).

Metode ekspositori juga dipergunakan pada kelompok kontrol tetapi tidak dominan, sedangkan yang dominant adalah metode penemuan terbimbing. Manalu (1980: 2) menyatakan bahwa belajar menemukan adalah belajar yang terjadi sebagai akibat dari pemanipulasian, pengkonstruksian, dan pentransformasian sesuatu informasi oleh seseorang, sehingga dia dapat memperoleh suatu informasi baru. Metode penemuan yang digunakan dalam penelitian ini disebut metode penemuan terbimbing karena hasil temuan siswa yang diharapkan tidak bersifat temuan terbuka atau bebas melainkan diarahkan dalam bimbingan guru dengan bantuan lembar kerja.
C.     Input
Bersamaan penulis akan melaksanakan penelitian, di SMP Negeri 1 Ngajum dilaksanakan tes pengukuran kemampuan awal bagi siswa-siswa kelas 3 untuk kepentingan penyusunan kelompok bimbingan belajar menjelang ujian nasional 2005/2006. Instrumen tes terdiri dari 20 soal yang diambil dari naskah soal ujian nasional susulan tahun 2004/2005 berdasar materi yang sudah disajikan pada siswa. Adapun instrument soal lebih lengkap bisa dilihat pada lampiran 11.
Hasil pengukuran kemampuan awal menjelang bimbingan belajar tersebut, yang untuk selanjutnya disebut hasil pra tes, dipergunakan penulis sebagai input untuk penelitian ini. Karena penulis hanya mengajar di kelas 3A dan 3B maka dipilih kelas 3A sebagai kelas eksperimen dan kelas 3B sebagai kelas kontrol. Hasilnya menunjukkan skor rata-rata pra tes kelompok eksperimen atau kelas 3A adalah 11,52 sedang skor rata-rata pra tes kelompok kontrol atau kelas 3B adalah 11,67. Adapun data lebih lengkap input siswa bisa dilihat pada lampiran 13 dan 14.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam.